Mandai: Makanan Tradisional Khas Kalimantan Selatan

 


Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisional yang sangat beragam, salah satunya adalah makanan khas Kalimantan Selatan yang dikenal dengan nama Mandai. Mandai terbuat dari kulit buah cempedak atau tiwadak dalam Bahasa Banjar yang difermentasi sehingga menghasilkan rasa khas dan unik. Makanan ini tidak hanya menjadi warisan budaya kuliner, tetapi juga mencerminkan kreativitas masyarakat Banjar dalam memanfaatkan bahan pangan.

Tujuan laporan ini adalah untuk mengenalkan Mandai sebagai makanan tradisional khas Kalimantan Selatan, menjelaskan asal-usulnya, jenis-jenisnya, bentuk dan keunikannya, serta melihat apakah Mandai masih ada dan dimakan sampai sekarang.

Mandai berasal dari masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Awalnya, masyarakat yang memiliki pohon cempedak sering memanfaatkan kulit buahnya agar tidak terbuang sia-sia. Dari kebiasaan itu lahirlah proses fermentasi kulit cempedak yang kemudian dikenal sebagai Mandai. Selain itu,  Filosofi Mandai adalah tentang kebijaksanaan dalam memanfaatkan alam. Bagi masyarakat Banjar, tidak ada yang terbuang. Kulit buah yang dianggap tidak berguna justru diolah menjadi makanan lezat dan bernilai ekonomi.

Mandai dibedakan menjadi dua jenis utama berdasarkan cara pengolahannya:

1. Mandai Basah, yaitu yang direndam dalam air garam tanpa proses pengeringan.

2. Mandai Kering, yaitu yang sudah dijemur terlebih dahulu sehingga tahan lebih lama.

Secara bentuk, Mandai berupa potongan kulit cempedak yang biasanya dipotong membentuk kotak kotak kecil, berwarna kuning kecokelatan setelah difermentasi. Teksturnya kenyal dengan aroma khas hasil perendaman. Biasanya Mandai digoreng, setelah digoreng, warnanya berubah menjadi cokelat keemasan. Bisa juga ditumis dengan cabai, atau dijadikan campuran masakan sederhana. Mandai memiliki cita rasa yang gurih dengan sensasi asin dan asam alami yang khas.

Keunikan Mandai terletak pada bahan dasarnya kulit buah cempedak. Selain itu, Mandai bisa disimpan lama dalam air garam sehingga cocok sebagai stok makanan. Mandai bisa bertahan hingga satu tahun atau lebih jika difermentasi dengan menggunakan garam yang cukup, dan mandai bisa bertahan sekitar satu bulan jika disimpan di suhu ruang dengan syarat air rendamannya harus diganti secara rutin, misalnya tiga hari sekali.  Tetapi, Mandai dapat bertahan lebih lama, sekitar enam bulan, jika difermentasi dan disimpan di dalam kulkas. 

Hingga saat ini, Mandai masih sangat populer di Kalimantan Selatan. Banyak keluarga masih membuat Mandai sendiri di rumah dengan cara yang diwariskan dari orang tua mereka. Salah satunya adalah keluarga saya, Mandai menjadi salah satu lauk pendamping yang disenangi orang di rumah, Mandai juga bisa dijadikan masakan apa saja, Saya sendiri menyukai mandai karena rasanya yang gurih dan enak disantap bersama nasi hangat. Bahkan, makanan ini mulai dikenal di luar daerah sebagai oleh-oleh khas Banjarmasin. Banyak warung makan tradisional Banjar yang menjadikan Mandai sebagai lauk pendamping nasi.

Komentar